Pendahuluan
Perkembangan
industri kerajinan batik saat ini semakin pesat seiring dengan laju
arus globalisasi yang terus berjalan. Perkembangan ini menuntut para
pengrajin untuk terus meningkatkan dan memperbaiki kinerjanya agar
dapat terus bertahan, dan bahkan dapat memenangkan kompetisi dengan
berbagai industri lainnya. Usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan
meningkatkan produktivitas. Produktivitas merupakan satu hal yang
sangat penting bagi suatu perusahaan sebagai alat untuk memantau
kinerja produksinya. produktivitas tersebut dapat dilakukan pula
untuk mengetahui tingkat kinerja perusahaan secara keseluruhan serta
dapat dijadikan sebagai pedoman untuk melakukan perbaikan
terus-menerus (continual
improvement). Seiring
dengan peningkatan produksi, ternyata timbul banyak permasalahan
lingkungan di sekitarnya. Permasalahan tersebut disebabkan karena
proses produksi seringkali mengakibatkan pembuangan material dan
energi yang akan membebani lingkungan, padahal proses produksi yang
baik tidak hanya memperhatikan keamanan dan efek samping dari limbah
sisa prosesnya, namun juga mereduksi limbah buangan yang
dihasilkan.permasalahan ini juga kerap kali diabaikan oleh pihak
pengrajin, padahal saat ini permasalahan lingkungan menjadi isu yang
cukup hangat dibicarakan. Oleh sebab itu, sangat penting bagi para
pengrajin batik untuk memperhatikan aspek-aspek lingkungan dalam tiap
proses produksi yang dilaksanakan agar dapat menciptakan keserasian
dengan lingkungan sekitarnya.
Latar
Belakang
Istilah
green industry di kenal dalam sebuah konferensi di manila, filipina
tahun 2009 yang bertemakan International Conference on Green Industry
in Asia hasil kerja sama antara United
Nations Industrial Development Organization (UNIDO),
United Nations Economic
and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP),
United Nations Environment
Programme (UNEP),
International Labour
Organization (ILO).
Green
industry adalah industri yang bergerak di sektor environmental
good dan jasa meliputi :
industri pendaur ulang, pengolah limbah, pemusnah limbah, pengangkut
limbah, konsultan lingkungan, industri pengolah air limbah,
pengendali pencemaran udara, peralatan pengolah limbah, industri
manufaktur dan instalasi peralatan energi yang terbarukan, konsultan
energi, laboratorium khusus pengukuran dan analisa lingkungan, dan
industri yang memproduksi teknologi bersih. (bpkimti, 2010)
Industri
manufaktur merupakan industri yang menjadi pendorong utama
pertumbuhan ekonomi pada negara berkembang dalam lima belas tahun
terakhir (Journal of Manufacturing Excellence,
2011).
Yang dimaksud dengan industri manufaktur (Lampiran Perpres Nomor 28
Tahun 2008) yaitu semua kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang dan
jasa yang bukan tergolong produk primer. Hidayat (Media Industri
Edisi 4 2011) menyatakan bahwa salah satu cara untuk mencapai target
pertumbuhan industri adalah peningkatan efisiensi dan daya saing.
Penerapan
Green industry (Kemenprin
2013) dilakukan melalui konsep produksi bersih (cleaner
production) melalui
aplikasi 4R, yaitu Reduce
(pengurangan limbah pada
sumbernya), Reuse
(penggunaan kembali
limbah), dan Recycle (daur
ulang limbah), dan Recovery
(pemisahan suatu bahan
atau energi dari suatu limbah).
Tujuan
Penelitian
Tujuan
dari penelitian ini untuk menghasilkan proses green productivity yang
ramah lingkungan dan meminimalisir dapak kerusakan alam yang terjadi
akibat proses produksi. Limbah yang merupakan hasil atau sisa dari
setiap proses yang terjadi dalam suatu kegiatan produksi di dalam
industri (pabrik). Strategi dalam pengelolaan limbah yang di dasarkan
pada pendekatan pengelolaan limbah yang terbentuk di nilai kurang
efektif. Oleh karena itu di perlukan suatu pendekatan yang
terintegrasi sebagai sebagai suatu pengelolaan limbah yang prefentif,
terpadu, dan di terapkan secara terus menerus pada seluruh tahapan
proses produksi.
Metode
Penelitian
Teknik
pengumpulan data dapat dilakukan melalui observasi dan wawancara
mendalam serta melakukan survey lapangan sehingga mampu menghasilkan
informasi yang akurat dan menyeluruh. Wawancara dikerjakan dengan
membuat suatu daftar pedoman wawancara yang bersifat open-end.
Hasil
Penelitian
Dari
analis tersebut yaitu bahwa limbah cair yang dihasilkan dari produksi
batik menimbulkan dampak yang cukup timggi bagi lingkungan.
Diantaranya : sisa pewarna, ngesol, pemblodoran, diketel, pencucian,
ngloyor. Limbah cair tersebut memiliki 2 karakteristik yang berbeda
yaitu : limbah cair kental, dan limbah cair encer.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil pengolahan dan analisa, maka dapat diambil beberapa kesimpulan,
yaitu Dari hasil penilaian resiko lingkungan diketahui bahwa tahapan
yang paling banyak menimbulkan dampak lingkungan adalah tahapan
proses ngloyor, pewarnaan napsol, ngesol dan nglorod. Namun jika
melakukan pendekatan terhadap Green Industry besar kemungkinan untuk
mengurangi dampak terhadap lingkungan yang dihasilkan dari hasil
produksi tersebut.
Sumber
:
Triwulandari
S. Dewayana, Dedy Sugiarto, Dorina Hetharia
Program
Studi Magister Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri –
Universitas Trisakti
“MODEL
PEMILIHAN INDUSTRI KOMPONEN OTOMOTIF YANG
RAMAH
LINGKUNGAN”.
Suhartini,
ST, MT
Teknik
Industri Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (2003),
“IMPLEMENTASI
GREEN PRODUCTIVITY UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PENGEMBANGAN
USAHA KECIL MENENGAH”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar