Kamis, 07 Januari 2016

Pengelolaan Dampak Idustri

Pendahuluan
Perkembangan industri kerajinan batik saat ini semakin pesat seiring dengan laju arus globalisasi yang terus berjalan. Perkembangan ini menuntut para pengrajin untuk terus meningkatkan dan memperbaiki kinerjanya agar dapat terus bertahan, dan bahkan dapat memenangkan kompetisi dengan berbagai industri lainnya. Usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan meningkatkan produktivitas. Produktivitas merupakan satu hal yang sangat penting bagi suatu perusahaan sebagai alat untuk memantau kinerja produksinya. produktivitas tersebut dapat dilakukan pula untuk mengetahui tingkat kinerja perusahaan secara keseluruhan serta dapat dijadikan sebagai pedoman untuk melakukan perbaikan terus-menerus (continual improvement). Seiring dengan peningkatan produksi, ternyata timbul banyak permasalahan lingkungan di sekitarnya. Permasalahan tersebut disebabkan karena proses produksi seringkali mengakibatkan pembuangan material dan energi yang akan membebani lingkungan, padahal proses produksi yang baik tidak hanya memperhatikan keamanan dan efek samping dari limbah sisa prosesnya, namun juga mereduksi limbah buangan yang dihasilkan.permasalahan ini juga kerap kali diabaikan oleh pihak pengrajin, padahal saat ini permasalahan lingkungan menjadi isu yang cukup hangat dibicarakan. Oleh sebab itu, sangat penting bagi para pengrajin batik untuk memperhatikan aspek-aspek lingkungan dalam tiap proses produksi yang dilaksanakan agar dapat menciptakan keserasian dengan lingkungan sekitarnya.

 Latar Belakang
Istilah green industry di kenal dalam sebuah konferensi di manila, filipina tahun 2009 yang bertemakan International Conference on Green Industry in Asia hasil kerja sama antara United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP), United Nations Environment Programme (UNEP), International Labour Organization (ILO).
Green industry adalah industri yang bergerak di sektor environmental good dan jasa meliputi : industri pendaur ulang, pengolah limbah, pemusnah limbah, pengangkut limbah, konsultan lingkungan, industri pengolah air limbah, pengendali pencemaran udara, peralatan pengolah limbah, industri manufaktur dan instalasi peralatan energi yang terbarukan, konsultan energi, laboratorium khusus pengukuran dan analisa lingkungan, dan industri yang memproduksi teknologi bersih. (bpkimti, 2010)
Industri manufaktur merupakan industri yang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi pada negara berkembang dalam lima belas tahun terakhir (Journal of Manufacturing Excellence,
2011). Yang dimaksud dengan industri manufaktur (Lampiran Perpres Nomor 28 Tahun 2008) yaitu semua kegiatan ekonomi yang menghasilkan barang dan jasa yang bukan tergolong produk primer. Hidayat (Media Industri Edisi 4 2011) menyatakan bahwa salah satu cara untuk mencapai target pertumbuhan industri adalah peningkatan efisiensi dan daya saing.
Penerapan Green industry (Kemenprin 2013) dilakukan melalui konsep produksi bersih (cleaner production) melalui aplikasi 4R, yaitu Reduce (pengurangan limbah pada sumbernya), Reuse (penggunaan kembali limbah), dan Recycle (daur ulang limbah), dan Recovery (pemisahan suatu bahan atau energi dari suatu limbah).

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini untuk menghasilkan proses green productivity yang ramah lingkungan dan meminimalisir dapak kerusakan alam yang terjadi akibat proses produksi. Limbah yang merupakan hasil atau sisa dari setiap proses yang terjadi dalam suatu kegiatan produksi di dalam industri (pabrik). Strategi dalam pengelolaan limbah yang di dasarkan pada pendekatan pengelolaan limbah yang terbentuk di nilai kurang efektif. Oleh karena itu di perlukan suatu pendekatan yang terintegrasi sebagai sebagai suatu pengelolaan limbah yang prefentif, terpadu, dan di terapkan secara terus menerus pada seluruh tahapan proses produksi.

Metode Penelitian
Teknik pengumpulan data dapat dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam serta melakukan survey lapangan sehingga mampu menghasilkan informasi yang akurat dan menyeluruh. Wawancara dikerjakan dengan membuat suatu daftar pedoman wawancara yang bersifat open-end.

Hasil Penelitian
Dari analis tersebut yaitu bahwa limbah cair yang dihasilkan dari produksi batik menimbulkan dampak yang cukup timggi bagi lingkungan. Diantaranya : sisa pewarna, ngesol, pemblodoran, diketel, pencucian, ngloyor. Limbah cair tersebut memiliki 2 karakteristik yang berbeda yaitu : limbah cair kental, dan limbah cair encer.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan dan analisa, maka dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu Dari hasil penilaian resiko lingkungan diketahui bahwa tahapan yang paling banyak menimbulkan dampak lingkungan adalah tahapan proses ngloyor, pewarnaan napsol, ngesol dan nglorod. Namun jika melakukan pendekatan terhadap Green Industry besar kemungkinan untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan yang dihasilkan dari hasil produksi tersebut.

Sumber :
Triwulandari S. Dewayana, Dedy Sugiarto, Dorina Hetharia
Program Studi Magister Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri – Universitas Trisakti
MODEL PEMILIHAN INDUSTRI KOMPONEN OTOMOTIF YANG
RAMAH LINGKUNGAN”.
 Suhartini, ST, MT
Teknik Industri Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (2003),
IMPLEMENTASI GREEN PRODUCTIVITY UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS PENGEMBANGAN USAHA KECIL MENENGAH”. 
Email : ttitin-63@yahoo.com



Tidak ada komentar:

Posting Komentar